Pesan Jaga Lisan Mengemuka
Ustadz Amir selanjutnya mengingatkan jemaah agar berhati-hati dalam menggunakan lisan. Ia mengutip Surah Al-Balad ayat 8-10 mengenai mata, lidah, dua bibir serta petunjuk mengenai dua jalan.
Ia menjelaskan bahwa perkataan seseorang dapat membawa kebaikan, tetapi juga dapat menimbulkan keburukan apabila tidak digunakan secara tepat.
“Dari lisan ini bisa lahir dua jalan. Bisa dari lisan lahir kebaikan, bisa lahir keburukan. Hanya tinggal kita memakainya, mau ke mana diarahkan,” katanya.
Pesan tersebut, menurutnya, tidak hanya relevan dalam kegiatan keagamaan. Menjaga ucapan juga penting dalam hubungan keluarga, kehidupan bermasyarakat serta interaksi sehari-hari.
Jemaah diingatkan agar tidak sembarangan memberikan komentar mengenai kondisi fisik maupun kekurangan orang lain. Bahkan candaan pun perlu dipertimbangkan agar tidak berubah menjadi perkataan yang membuat orang lain malu atau tersinggung.
“Salamatul insan bihifzil lisan. Selamat manusia kalau dia menjaga lisannya,” ujarnya.
Menutup tausiah, Ustadz Amir mengutip nasihat Ali bin Abi Thalib mengenai pentingnya menempatkan akal sebelum lisan.
“Orang cerdas dia letakkan akalnya di depan, lisannya di belakang. Sebelum dia ngomong dan bicara, dia sudah pikirkan dengan matang dan baik apa kata-kata yang dia lontarkan,” jelasnya.
Ia kemudian mengajak jemaah menjadikan peringatan Maulid Nabi sebagai momentum memperbaiki akhlak, termasuk membiasakan komunikasi yang lembut dan santun.
“Jagalah lisan kita. Karena itu adalah satu dari bahagian akhlak yang diajarkan oleh baginda Rasul kepada kita dalam kehidupan ini,” pesannya.












