Menghadapi situasi tersebut, perusahaan melakukan sejumlah langkah mitigasi di sisi agronomi. Upaya itu diarahkan untuk menjaga produktivitas tanaman sekaligus mempertahankan kualitas pucuk teh yang menjadi bahan baku utama pengolahan.
Rediman menilai hasil yang diperoleh dalam NTC 2026 menunjukkan bahwa berbagai penyesuaian dalam pengelolaan kebun dan proses produksi tetap dapat berjalan di tengah tekanan kondisi cuaca.
“Di tengah tantangan El Nino, penghargaan yang diraih pabrik-pabrik kami membuktikan bahwa intervensi agronomi dan perbaikan tata kelola yang kami lakukan berada di jalur yang tepat (on the track). Tantangan cuaca tidak menyurutkan komitmen kami dalam menghadirkan secangkir teh terbaik bagi konsumen,” tutup Rediman.
Dinilai Melalui Blind Testing
NTC 2026 diikuti 74 sampel teh dari 32 perusahaan. Produk peserta dinilai melalui mekanisme blind testing, sehingga sampel diuji tanpa mengedepankan identitas produsen kepada tim penilai.
Mekanisme tersebut menjadi bagian penting dalam kompetisi karena kualitas sampel menjadi dasar penilaian. Ajang yang diselenggarakan ATI ini juga diarahkan untuk mendukung peningkatan mutu sekaligus memperkuat posisi teh Indonesia di pasar dunia.












