TEHERAN, langgamnews.com – Media sosial dalam beberapa waktu terakhir dihebohkan oleh cuplikan video fenomena alam langka di Pulau Hormuz, Iran. Dalam video tersebut, air hujan tampak berwarna merah pekat mengalir dari tebing menuju bibir pantai dan menyatu dengan ombak laut, sehingga garis pantai terlihat seolah-olah “berdarah”.
Video fenomena alam ini pertama kali ramai dibagikan melalui akun TikTok @iamcardan dan @marcovillamar47. Selain itu, video serupa juga diunggah oleh akun Instagram pemandu wisata Pulau Hormuz, @hormoz_omid, dan dikutip oleh sejumlah media internasional, salah satunya metronews.com.
Dalam unggahannya, @hormoz_omid menuliskan kekagumannya terhadap fenomena tersebut.
“Pantai Merah sedang berada di puncak keindahannya. Hujan membuat daya tarik Hormoz ini luar biasa. Laut biru di pantai ini berubah menjadi merah,” tulisnya.
Unggahan video itu pun dengan cepat menarik perhatian warganet. Hingga kini, video tersebut telah ditonton sekitar 932 ribu kali, disukai lebih dari 40 ribu pengguna, serta dibanjiri komentar bernada kekaguman. Salah satu pengguna di forum r/Iran Reddit bahkan menuliskan, “Terima kasih telah menyebarkan video ini, ini sangat spesial.”
Meski terlihat menakjubkan, fenomena yang kemudian populer dengan sebutan “hujan darah” itu menimbulkan rasa penasaran publik mengenai penyebab ilmiahnya.
Penjelasan Ilmiah Fenomena Hujan Darah di Pulau Hormuz
Mengutip laporan The Independent, fenomena blood rain tersebut terjadi di Pulau Hormuz, sebuah wilayah di Iran yang terletak di Selat Hormuz. Warna merah yang muncul pada aliran air hujan dan sepanjang garis pantai disebabkan oleh kandungan tanah yang sangat kaya akan besi teroksidasi atau besi yang mengalami proses karat.
NASA Earth Observatory menjelaskan bahwa Pulau Hormuz merupakan sebuah kubah garam yang kaya akan mineral.
“Pulau ini merupakan kubah garam, yakni tonjolan berbentuk tetesan air mata yang terdiri atas garam batu, gipsum, anhidrit, dan material evaporit lainnya yang terdorong ke atas menembus lapisan batuan di atasnya,” tulis NASA Earth Observatory dalam keterangannya.
NASA juga menambahkan bahwa garam batu atau halit memiliki sifat lemah dan mudah mengalir seperti cairan ketika berada di bawah tekanan tinggi. Namun, material yang muncul ke permukaan Pulau Hormuz tidak hanya berupa garam.
Di pulau tersebut juga terdapat lapisan tanah liat, karbonat, serpih, serta batuan vulkanik yang mengandung kadar besi tinggi. Ketika material tersebut terdorong ke permukaan dan berinteraksi dengan air hujan serta mineral lain, terjadilah perubahan warna mencolok menjadi merah, kuning, hingga oranye.
Studi sebelumnya menyebutkan bahwa Pulau Hormuz memiliki cadangan besi yang cukup melimpah. Sementara itu, UK Met Office menjelaskan bahwa fenomena blood rain umumnya terjadi ketika hujan membawa debu atau pasir berwarna kemerahan. Namun, khusus di Pulau Hormuz, fenomena ini lebih dipengaruhi oleh tanah merah kaya besi teroksidasi yang larut dan terbawa aliran air hujan hingga ke kawasan pantai.
Bernilai Budaya, Namun Berisiko bagi Kesehatan
Menariknya, tanah merah di Pulau Hormuz tidak hanya memiliki daya tarik visual, tetapi juga nilai budaya bagi masyarakat setempat. Tanah tersebut dikenal dengan sebutan gelak dan kerap dimanfaatkan sebagai campuran bumbu masakan tradisional, termasuk pada roti khas bernama tomshi.
Meski demikian, para ilmuwan mengingatkan bahwa konsumsi tanah merah tersebut secara rutin berpotensi berbahaya. Hal itu disebabkan kandungan logam berat di dalam tanah yang dapat berdampak negatif bagi kesehatan manusia apabila dikonsumsi dalam jangka panjang.




