Bayi Pengungsi Gaza Jadi Korban Dingin Ekstrem di Tenda Darurat

Kementerian Kesehatan Gaza Konfirmasi Kematian Bayi Akibat Hipotermia Akut

Kerusakan bangunan di Gaza usai serangan Israel di kamp pengungsi Nuseirat, Gaza Tengah, 20 Desember 2025. Kerusakan parah ini menggambarkan kondisi infrastruktur yang hancur di tengah krisis kemanusiaan yang belum juga usai. (langgamnews.com/Foto: AFP / EYAD BABA)

Gaza, Langgamnews.com —Musim dingin ekstrem yang melanda Jalur Gaza kembali memicu duka mendalam. Seorang bayi pengungsi Palestina diduga meninggal dunia akibat hipotermia akut di tengah keterbatasan hidup di tenda pengungsian.

Korban bernama Mohammed Khalil Abu al-Khair, bayi berusia 14 hari yang tinggal di kawasan al-Mawasi, wilayah barat Khan Younis, Gaza selatan.

Dilansir dari Al Jazeera, Minggu (21/12/2025), ibu korban, Eman Abu al-Khair (34), mengaku tidak menyangka anaknya akan meninggal dalam kondisi cuaca yang sangat dingin.

“Aku masih bisa mendengar tangisan kecilnya di telingaku. Aku tidur dan terlelap, tidak percaya bahwa tangisannya yang biasa membangunkanku di malam hari tidak akan pernah terjadi lagi,” ucap Eman dengan suara bergetar.

Tragedi tersebut terjadi pada malam 13 Desember 2025. Keluarga Mohammed diketahui mengungsi setelah rumah mereka di bagian timur Khan Younis hancur akibat serangan militer Israel.

Eman menuturkan, ia menidurkan Mohammed di dalam tenda pengungsian. Saat terbangun, ia mendapati suhu tubuh bayinya sangat rendah. Kondisi tenda yang tidak layak, minim perlindungan, serta tidak tersedianya pakaian hangat membuat Mohammed tidak mampu bertahan.

“Tubuhnya dingin seperti es. Tangan dan kakinya membeku, wajahnya kaku dan kekuningan, dan dia hampir tidak bernapas,” ujar Eman.

Upaya evakuasi terhambat hujan deras dan ketiadaan transportasi. Akses menuju rumah sakit pada malam hari dinilai tidak memungkinkan.

“Begitu fajar menyingsing, kami bergegas dengan gerobak yang ditarik hewan menuju rumah sakit. Namun sayangnya, kami tiba terlambat. Kondisinya sudah kritis,” katanya.

Di Rumah Sakit Bulan Sabit Merah Khan Younis, staf medis mendapati kondisi Mohammed sangat kritis. Bayi tersebut mengalami kejang-kejang dan wajahnya membiru sebelum dirawat di unit perawatan intensif anak.

Mohammed menjalani perawatan selama dua hari dengan bantuan ventilator. Namun pada 15 Desember 2025, ia dinyatakan meninggal dunia.

“Bayi saya tidak memiliki masalah medis. Hasil tesnya tidak menunjukkan penyakit apa pun. Tubuh mungilnya tidak mampu menahan dingin yang ekstrem di dalam tenda,” ujar Eman.

Kementerian Kesehatan Gaza dalam pernyataan resminya mengonfirmasi bahwa Mohammed meninggal akibat hipotermia akut akibat penurunan suhu tubuh yang parah.

“Anak itu, Abu al-Khair, tiba di rumah sakit dua hari yang lalu dan dirawat di unit perawatan intensif, tetapi ia meninggal kemarin,” demikian pernyataan Kementerian Kesehatan Gaza.

Dengan bertambahnya kasus ini, total anak yang meninggal akibat cuaca dingin ekstrem di Gaza selama bulan ini mencapai empat orang. Seluruhnya merupakan anak-anak pengungsi yang tinggal di penampungan darurat.
Hal tersebut sebagaimana diberitakan detikcom.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *